Jumat, 25 Maret 2016

Dewa Penyapu Jalan



Dewa Penyapu Jalan 

          Pada pagi hari di Perumpung terdapat kisah seorang anak yang bernama Dewa. Dewa ini seorang anak yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dewa bekerja sebagai tukang sapu di Terminal Kampung Melayu. Dewa berjalan menuju Terminal Kampung Melayu, dengan cuaca sinar mataharinya yang begitu terik dan tempat bekerjanya yang begitu jauh. Dewa tidak merasa kelelahan walau banyak rintangan yang harus dilewatinya dan Dewa bersyukur mendapatkan gaji yang tak seberapa yaitu lima ribu rupiah. Gaji yang diterima Dewa baginya cukup untuk membeli sebungkus nasi bagi keluarganya.

          Tak terasa Dewa telah sampai di Terminal Kampung Melayu. Ia langsung mengambil sapu lidi dan langsung memulai pekerjaannya. Tak terasa pekerjaan Dewa telah selesai ia langsung bertemu dengan mandornya untuk mengatakan bahwa pekerjaan saya sudah selesai.
Mandor    : "Apakah sudah selesai pekerjaanmu?"
Dewa       : "Sudah selesai pak"
Mandor    : "Ini upah untuk kamu, teria kasih ya"
Dewa       : "ya pak, sama-sama"(kata Dewa)

          Pada saat Dewa ingin perjalanan pulang ada 4 anak SMA yang ingin berwawancara. Anak SMA tersebut bernama Rian, Pingkan, Bella, Benny, Angel. Anak SMA tersebut belum bertemu dengan narasumber yang tepat, tetapi pada saat ke Terminal Kampung Melayu mereka bertemu narasumber yang tepat. Narasumber yang tepat itu bernama Dewa. Dewa  diwawancarai oleh 4 anak SMA tersebut di dekat Terminal Kampung Melayu. Anak SMA tersebut bertanya.
Anak SMA    : "Dewa kerjanya nyapu dijalanan"
Dewa             : "Iya"
Anak SMA    : "dimana ayah dan ibumu?'
Dewa             : "Ayah sedang tidak kerja dan ibu sudah meninggal"(pertanyaan itu yang membuat Dewa menjadi nangis)
Anak SMA    : "Sudah berapa lama meninggalnya?"
Dewa             : "2 tahun"
Anak SMA    : "Ibu Dewa meninggal karena apa?"
Dewa             : "Sakit”

           Dewa bergegas untuk menuju warung makan. Dewa membeli sebungkus nasi, tempe dan bakwan. Dewa akhirnya bergegas untuk menuju rumahnya. Sebungkus nasi tersebut dimakan bersam ayah dan adiknya. Dewa merasa senang karena perut ayah dan adiknya sudah terisi oleh nasi walaupun tak seberapa.

           Dewa mempunyai dua kakak dan dua adik. Kakak Dewa yang satu meninggal dan yang satunya pergi dari rumah. Dewa bekerja dari jam 9 sampai jam 12. Dewa bersekolah di SD 06 dan Dewa menduduki kelas 2. Dewa sempat berhenti sekolah, karena kondisi ekonmi keluarganya ang tak mampu untuk membiayai sekolah Dewa. Dewa bertekad untuk melanjutkan sekolahnya demi menggapai cita-citanya, yaitu menjadi pemain sepak bola profesional.

         Bagaimanapun juga ia harus menjadi tulang punggung keluarganya. Ayahnya sudah tak sanggup lagi bekerja karena tangannya sakit karena menganggkat beban berat di pasar saat itu. kakak yang satu meninggal karena terserempet kereta kakak yang kedua pergi dari rumah. Keadaan ini pun yang menjadikannya menjadi pencari nafkah di keluarganya. Kini dia harus menghidupi keluarganya setiap hari.
 
           Sungguh mulia sifat Dewa, ia rela berjalan jauh dan bekerja sebagai tukang sapu di terminal Kampung Melayu demi sesuap nasi bagi keluarganya.


Pesan yang terkandung adalah
- Kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki dan kita harus bersyukur dengan apa yang allah limpahkan
- Jangan lah mudah untuk putus asa dan jangan lah mudah untuk menyerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar